Sunday, January 13, 2008

Ayahku (2)

Aku tidak mengenali siapakah kedua-dua jejaka tampan yang berada di kiri dan kanan ayahku itu. Cuma yang aku tahu, gambar itu telah dirakamkan pada tarikh 01/01/1950 di Lenggong , Perak. Gambar ini masih tersimpan dengan baik dalam simpananku dan sekali sekala jika merasa rindu terhadap ayahku, aku akan membelek gambar ini. Daripada cerita ayah yang pernah aku dengan, salah seorang itu ialah Pak Lang Din yang berkahwin dan kemudiannya meninggal dunia di Kelantan. Perkara itu akan aku pastikan kemudian nanti.
Foto di atas ini pula adalah satu-satunya foto persandingan ayahku bersama ibu yang masih tersimpan rapi dalam album gambar di rumahku. Bila melihatkan kepada pakaian pengantin yang dipakai oleh kedua mempelai itu, aku dapat bayangkan betapa penuh beradat sopannya masyarakat Melayu ketika itu. Perkahwinan pada waktu itu diatur oleh keluarga dan bukan atas dasar suka sama suka atau pendeknya cinta sebelum berkahwin.
Foto di atas ini pula ialah gambar selepas perkahwinan ayah dan ibuku, juga kalau tidak silap diambil di Lenggong, Perak. Inilah gambar kenangan abadi ayah dan ibu selepas mereka bergelar suami isteri. Mungkin ada lagi beberapa gambar mereka yang diambil selepas ini tetapi aku sendiri tidak dapat mengesannya.
Posted by Picasa

Ayahku ( 1 )

Beberapa ketika kebelakangan ini, entah mengapa aku asyik teringat kepada ayahku yang telah pun pergi menyahut panggilan Ilahi sejak sekian lama. Bila aku fikirkan tentang ayahku itu, terasa juga betapa dia amat menyayangi aku dan anak-anaknya yang lain. Aku sendiri tidak tahu mengapa sejak dari dahulu kasih sayangku terhadap ayahku tidaklah begitu menebal tetapi semakin hari aku amat terasa kerinduan yang amat sangat kepadanya. Gambar di atas itu adalah gambar ayahku semasa berkhidmat dalam British Army dengan Regimen Royal Signal di Singapore. Nombor tenteranya pada masa itu kalau tak salah aku 3235. Dari rekod, ayahku memasuki British Army pada 14/04/1950 ketika berusia 18 tahun.
Ayahku menyertai British Army pada tahun 1950 ketika berusia 18 tahun. Setahu aku ayah adalah satu-satunya anak nenekku yang menjadi tentera. Pakcikku yang lain menjadi guru. Mungkin darah guru telah menjadi darah keturunanku sejak dari moyangku lagi, Lebai Kemala. Kalau tidak salahku, salah seorang daripada sepupu ayah juga menjadi tentera British berkhidmat dalam Royal Air Force di Singapore. Aku hanya memanggilnya sebagai Paklang Din sahaja. Hingga sekarang anak-beranak Paklang Din masih ada di Singapura.
Gambar di atas ialah gambar ayahku yang diambil ketika baru menjadi tentera. Boleh tahan juga segaknya ayahku dengan stail pakaian dan rambut ala P. Ramlee. Daripada cerita arwah ayahku, dia mempunyai ramai kenalan dalam Royal Signal di Singapura. Tetapi aku tidak dapat mengingati nama kawan-kawan ayah yang sama-sama berkhidmat dalam Royal Signal.
Foto di atas adsalah gambar ayahku bersama dengan nenekku di Kg Bukit Nangka, Lenggong, Perak. Gambar itu diambil semasa ia berusia 7 atau 8 tahun, di tahun 1940 atau 1941 atau di awal zaman pemerintahan Jepun. Sebagai anak bongsu dalam keluarga, ayahku ini agak nakal berbanding dengan abang-abangnya yang lain. Tetapi kenakalan dia selalu membawa akibat kerana nenek adalah seorang ibu yang garang terhadap anak-anaknya. Langsung tidak memberi muka terhadap anak-anak malahan cucunya juga tidak diberi muka.
Posted by Picasa

Saturday, January 12, 2008

Indahnya Alamku

Pemandangan sewaktu berbasikal di Setia Alam, Shah Alam. Ciptaan Ilahi yang amat aku kagumi!


Pelangi...Pancawarna Anugerah Ilahi


7 warna pelangi
hanyalah sebesar hama anugerah ilahi
berbanding rahsianya
7 petala langit
7 petala bumi
7 lautan maha luas
kecilnya terasa jiwa ragaku....

Friday, January 11, 2008

Saya Orang Batak...Rencana Istimewa Oleh Tika Sinaga


"Saya Orang Batak", Sebuah Perspektif

My goodness! Saya mendapat beberapa respon atas tulisan saya berjudul “Jika Anda Orang Batak, Katakan Pada Anak Anda Dia Orang Batak”. Tulisan itu jujur sebuah perspektif pribadi dari pengalaman pribadi. Saya berharap tidak menyinggung siapapun. Kalau dibaca teliti, tulisan itu sebenarnya tidak mendorong semua orang yang masuk dalam kategori Antropologi sebagai “Suku Bangsa Batak” untuk menyebut diri mereka “orang batak”. Sekedar menyarankan agar mereka (yang merasa) “orang batak” memberitahu anak-anak mereka bahwa mereka “orang batak”. Tak ada gunanya berdebat jika anda bukan orang batak atau merasa bukan orang batak. Saya coba ulas semua masukan yang saya terima .
Jonson Tarigan, sahabat saya yang sedang mengambil S3 di New York State, dan selalu menyebut dirinya “orang batak” dalam emailnya mengatakan: “gejala sosial budaya Batak urban yang kau gambarkan di blog mu itu dalam konteks yang hampir sama sudah jadi indikator sejak jaman nenek moyang kita. Sub-kultur yang satu mengatakan berbeda dari lainnya, atau yang satu lebih unggul dari lainnya, yang satu lebih pimitif dari lainnya. Di kampungku, sebutan orang Batak itu ya orang Toba….”
Ita Damanik, sahabat saya semasa kuliah di S1 merespon singkat: “I am Batak, Batak Simalungun!”
Arimbi Nasution, sahabat “french club” saya yang belakangan berjilbab mengatakan: “Aku tak pernah tahu ada, sebutan lain selain “orang Batak”, kecuali jika aku ditanyakan lebih lanjut, ya jawabnya, Batak Mandailing.”
Inangtua (Tante) saya yang br. Siregar (Angkola), menjelaskan bahwa jaman nenek moyang dulu ada ejekan sinis: “muda kayo, han sipirok, muda miskin han toba” artinya, “kalau kaya pasti dari Sipirok, kalau miskin pasti dari Toba.” “Ketika banyak sastrawan Batak Selatan seperti Madong Lubis, Mochtar Lubis atau ilmuwan Dr. Diapari Siregar sudah mahsyur pada masa penjajahan, banyak orang Batak dulu mengaku orang Selatan.” “Krisis identitas orang Batak sudah ada sejak dulu, Boru”, kata Inangtua yang berusia 70-an dan lahir di Jakarta itu.
Saya juga mendapat beberapa email bingung panjang lebar yang tidak dengan blak-blakan mengatakan “kami bukan orang Batak”, tapi dengan kesimpulan pendek mengatakan bahwa sebutan “orang Batak” itu hanya untuk orang Batak Toba. (Sebutan?) Email lain mengatakan, bahwa hanya orang Tapanuli saja yang disebut “orang batak” dan orang non-Tapanuli tidak menyebut diri mereka “orang Batak”. (Disebut-Menyebut?) Sebuah indikasi yang menunjukkan bahwa memang ada perbedaan perspektif (non-ilmiah) diantara kelompok masyarakat Suku Bangsa Batak. Indikasinya, panggilan “batak” mengacu pada sub-kultur batak Toba, yang konotasinya dimata sub-kultur lain adalah “batak tulen”.
“Indikator sejak jaman nenek moyang”, kata Jonson Tarigan sahabat saya.
Seorang sahabat lain mengatakan: “tanah leluhurku, tanah Simalungun (bukan tanah batak!).
Saya menyebut tanah leluhur saya adalah Samosir, karena betapa luasnya Tanah Batak. Menurut Tarombo (silsilah) Marga Sinaga, Saya adalah generasi ke-17 Marga Sinaga, dihitung dari tokoh bernama Raja Toga Sinaga (Sinaga Pertama), hidup sekitar abad ke 15. Sebagian besar buyut kandung saya dikubur di Samosir, sebagian lagi dikubur dan beranak pinak hingga hari ini di Tanah Simalungun, berserak dari Siantar hingga Tanah Jawa atau keluar Sumatra. (Yupp, ada Tanah Jawa di Tanah Simalungun). Sepupu-sepupu saya di Simalungun itu (ada yang mencapai generasi ke 22) sebagian beragama Islam.
Lalu, mengapa disebut Tanah Batak? Apa Sejarahnya
Tanah Batak
Pusuk Buhit di Tapanuli (Tapanuli kemudian mekar menjadi beberapa kabupaten) dipercaya sebagai tempat awal Suku Bangsa Batak pertama yang beranak pinak pada sekitar abad 13. Pemerintah Belanda menamakan wilayah itu sebagai Centraal Batakland yang artinya Tanah Pusat Suku Bangsa Batak atau Tanah Batak atau Tano Batak (Lance Castle, "Kehidupan Politik Suatu Karesidenan di Sumatera, Tapanuli, 1970).
Suku bangsa Batak secara geografis melakukan penyebaran dan berserak pada wilayah-wilayah tertentu dan menjadi “Tuan Tanah” atau “Landlord “ atas tanah-tanah kediaman mereka tersebut. Pemujaan atas tanah-tanah mulia itu dikenal lewat sebutan Tanah Simalungun, Tanah Karo, Tanah Mandailing. Beberapa literature menjelaskan sejumlah hasil penelitian Genealogi (asal-usul) yang menunjukkan, terjadinya migrasi orang Batak secara konsisten yang berawal dari sekitar Danau Toba (Lance Castle, "Kehidupan Politik Suatu Karesidenan di Sumatera, Tapanuli, 1970).
Tiga tahun terakhir ini saya addicted mempelajari buku-buku dan literature yang ditulis oleh Anthropologist, Sociologist, Linguist dan beberapa budayawan mengenai Suku Bangsa Batak, 1 dari 19 peta suku bangsa terbesar di Indonesia yang penggolongannya didasarkan pada lingkaran hukum adat yang dibuat oleh Van Vollenhoven (B. Ter Haar, Adat Law in Indonesia, New York, New York Institute of Pacific Relations, 1984). Saya juga mempelajari Tarombo (Silsilah), mulai Tarombo Si Raja Batak, yang dipercaya orang Batak sebagai cikal bakal Suku Bangsa Batak), serta beberapa Tarombo Marga. Saya tidak berniat untuk memperdebatkan apa yang sudah ditulis dan sudah di-research selama beratus tahun oleh para Anthropologist, Linguist dan Sociologist, Missionarist terdahulu. Mungkin perlu 20 tahun tambahan, plus 10 orang profesor dan sekitar 100 team, untuk secara Anthropology, Genealogy, Ethnology, Sociology, Linguistic, Socio-Linguistic, meneliti ulang asal-usul orang batak, penyebarannya secara geografis, ekonomis, sosiologis, menelaah tingkah laku sosial- budaya-linguistik mereka, menetapkan parameter measurement serta menarik kesimpulan atas siapa yang disebut “suku bangsa Batak”. Jadi saya ambil dari literature yang sudah ada saja.
Siapakah orang Batak? Who are they?
Definisi “Orang Batak”
Pada perspektif saya, pada saat ini ada 2 definisi “orang Batak”;
Mereka yang menurut Antropologi termasuk Suku Bangsa Batak (Definisi ilmiah)
Mereka yang mengaku/merasa Orang Batak (Definisi bukan ilmiah)
Saya katakan “saya orang Batak”, karena berdasarkan definisi ilmiah dan bukan ilmiah, saya tergolong orang Batak.
Suku Bangsa Batak
Antropologi mengenal “Batak ethnic group” atau “suku bangsa Batak” sebagai suku bangsa yang secara geografis berasal/mendiami wilayah-wilayah yang mereka sebut sebagai “tanah” (“land”) itu, dengan 5 sub-culture atau sub-ethnic Group sbb:
5 sub-ethnic group atau sub-culture Suku Bangsa Batak ;


1. Batak Mandailing, mendiami Kabupaten Tapanuli Selatan (ibukotanya Padang Sidempuan) dan sekitarnya. Lokasinya dekat dengan Sumatera Barat.
2. Batak Toba mendiami wilayah yang mencakup Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara.
3. Batak Karo mendiami Kabupaten Karo yang lokasinya sudah dekat dengan Propinsi Nangroe Aceh Darussalam, khususnya kabupaten Aceh Tenggara.
4. Batak Simalungun mendiami wilayah Kabupaten Simalungun dan sekitarnya
5. Batak Pakpak mendiami wilayah Kabupaten Dairi dan sekitarnya
Jadi sah-sah saja jika kemudian kelima sub-kultur didalam kesuku-bangsaan Batak itu mengatakan diri mereka atau menyebut sub-kultur satu dengan lainnya sebagai Orang Mandailing, Orang Toba, Orang Karo, Orang Simalungun, atau Orang Pakpak atau bahkan terdefinisikan oleh kotak-kotak sub-sub-kultur lebih kecil berdasarkan kelompok klan/marga sebagai Orang Angkola atau Orang Selatan atau Orang Samosir (Par Samosir), orang Si Lindung (Par Silindung), Orang Balige (Par Balige). Orang-orang batak ini juga sudah kawin-mawin antar sub-culture dan berserak ke seluruh penjuru dunia.
Lalu apakah artinya kita bukan berakar dari satu rumpun Suku Bangsa Batak? Kita Bukan orang Batak?
“Indikator sejak jaman nenek moyang”, kata Jonson Tarigan sahabat saya.
Sesama orang Jawa memperkenalkan diri mereka dengan identitas orang Solo, orang Yogja, orang Suroboyo, orang Cirebon. Tetapi bukan berarti mereka bukan orang Jawa. Mereka juga sering menekankan kata Jawa didepan daerah asalnya. “Aku Jawa Cirebon!”. Betapapun berbedanya budaya Cirebon dengan budaya Solo, dan budaya Jawa Timur dengan Tengah, mereka tetap “Wong Jowo”
Identifikasi “Saya orang Batak” saya katakan jika lawan bicara saya sesama orang Indonesia menanyakan asal kesukuan saya. Bukan untuk pemujaan kesukuan/etnosentris. Ketika ditanyakan oleh sesama orang batak, tentu saya akan mengatakan: “oh, Opungku orang Samosir, pulau ditengah Danau Toba, tepatnya Lontung dimana rumah opungku berdiri hingga hari ini sejak tahun 1880-an.”
But again, it is my perspective! Perspektif yang mungkin dilihat oleh sesama orang yang merasa “orang Batak” dimanapun dan dari wilayah geografis manapun mereka berasal. Tentunya harus dengan spirit “kita punya banyak kesamaan” dan bukannya spirit “kita berbeda”. Saya sama sekali tidak berniat untuk mempermasalahkan perspektif sebagian orang yang menganggap bahwa rumpun suku bangsanya bukanlah Suku Bangsa Batak. Berbeda? It's OK!

Danbyrd BOULEVARD - Song - MP3 Stream on IMEEM Music

Danbyrd BOULEVARD - Song - MP3 Stream on IMEEM Music

Dengarlah lagu ini dan hayati senikatanya....

I don’t know why,
You said goodbye
Just let me know
you didn’t go
forever my love

Please tell me why,
You make me cry
I beg you please
I on my knees
if that's what you want me to

Never knew that it would go so far
When you left me on that boulevard
Come again you would release my pain
And we could be lovers again

Just one more chance,
Another dance
And let me feel it isn’t real
that I’ve been losing you

This sun will rise,
Within your eyes
Come back to me
and we will be happy together

Maybe today,
I’ll make you stay
A little while just for a smile
and love together
For I will show,
A place I know
In Tokyo where we could be happy together

Thursday, January 3, 2008

Kasihanlah...

02/01/2008 jam 4.00pm. Aku bertemu dengan satu kemalangan yang tragis! Semasa menunggang motosikalku, Aprilia Pegaso Strada melalui tol ELITE hala ke Klang dari Seremban, ketika hampir melalui susur keluar ke USJ, aku melihat satu tubuh kaku di atas jalanraya bersama dengan motosikal yang rebah di atas tanah. Aku terpandang pada tubuh itu dan sekitarnya...ah , anak mana yang menjadi yatim hati ini!!!

Secara tiba-tiba aku merasa hiba yang teramat sangat. Apakah salahnya anak-anak dan isteri lelaki ini? Mengapakah harus mereka menerima takdir itu? Tapi, apa yang boleh kita lakukan, itulah namanya ketentuan. Aku lantas membayangkan bagaimanakah anak-anaknya mengharungi hari pertama persekolahan esok 03/01/2008 tanpa kehadiran seorang lelaki bernama ayah. Apa yang pasti, anak-anak lelaki itu harus menerima hakikat ini sepanjang hayat mereka.

Atas pengalaman semalam itu, aku mula mempersoalkan apa yang sudah jadi dengan masyarakah kita, terutamanya pemandu-pemandu kenderaan tidak kira kereta, lori , bas atau motosikal sendiri. Seringkali aku bertemu dengan keadaan di mana pemandu-pemandu ini langsung tidak memperdulikan nyawa orang lain. Mungkin mereka merasakan bahawa hanya mereka sahaja yang layak hidup di dunia ini dan orang lain tidak perlu hidup.

Sudah berbuih mulut kerajaan, NGO dan orang-orang perseorangan meluahkan seribu satu permasalahan berhubung dengan sikap pemandu kita, namun semuanya umpama mencurahkan air di daun keladi sahaja. Sesuatu mesti dilakukan bukan sahaja oleh kerajaan atau pertubuhan bukan kerajaan, tetapi juga kita sebagai individu juga mesti melakukan sesuatu perubahan agar masyarakah kita akan berubah.

Semoga di tahun 2008 ini, masyarakat Malaysia akan lebih makmur dan semoga tahun 2008 ini juga kita semua akan lebih komitmen untuk mewujudkan masyarakat Malaysia yang penyayang, berdisiplin dan berpegang kepada norma-norma masyarakat yang moden dan berwawasan.
Selamat Tahun Baru 2008.